Zupertau: penganggaran perusahaan
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label penganggaran perusahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penganggaran perusahaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juli 2021

ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Konten [Tampil]

 A. PERENCANAAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Perencanaan yang baik harus dipusatkan pada hubungan antara tingkat pengeluaran dengan manfaat yang diperoleh dari pengeluaran tersebut. Untuk mendaptkan manfaat tertentu perusahaan tidak segan-segan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Sebagai contoh untuk meningkatkan volume pepjualan perusahaan mengeluarkan biaya riset dan pengembangan produk yang cukup besar. Manfaat dari kegiatan tersebut tentunya adalah tercapainya kuota penjualan yang besar.

Selain itu perencanaan biaya harusnya lebih terfokus pada penggunaan sumber daya yang terbatas secara lebih baik, bukan sekedar pengurangan biaya. Beberapa perusahaan melakukan petnotongan pengeluaran-pengeluaran tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya pada keuntungan yang diperoleh. Sebagai contoh perusahaan tidak menyediakan sumber daya yang memadai untuk pemelihara harta seperti peralatan mesin dan bangunan-bangunan. Tidak dapat dielakkan keputusan-keputusan jangka pendek walaupun mengurangi pengeluaran-pengeluaran dalam jangka waktu tertentu, tetapi mengakibatkan meningkatnya biaya karena kerusakan-kerusakan, mesin yang tidak efisien, kesalahan mesin, biaya perbaikan yang besar dan berkurangnya umur harta.

B. MACAM-MACAM BIAYA OVERHEAD PABRIK

Biaya-biaya yang, dikeluarkan untuk keperluan proses produksi sangatlah kompleks jenisnya. Biaya yang tergolong dikategorikan sebagai biaya-biaya overhead pabrik (faktori overhead) adalah biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya bahan mentah langsung dan tenaga kerja langsung Macam-macam BOP:

Beberapa biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik antara lain: 

  • Biaya bahan mentah tidak langsung (baban penolong)
  • Biaya tenaga kerja tidak langsung
  • Biaya pemeliharaan gedung
  • Biaya reparasi dan pemeliharaan peralatan mesin
  • Biaya penyusunan
  • Biaya asuransi
  • Biaya listrik
  • Biaya bahan bakar

Pelaksanaan anggaran yang komprehensif memerlukan system akuntansi pertanggungjawaban atau dikenal dengan prinsip biaya departemen langsung. Setiap pusat tanggung jawab memiliki tanggung jawab dan sumber daya masing-masing. setiap pusat pertanggngjawaban merupakan suatu sub unit perusahaan dan berada di bawah kendali seorang manajer. Dengan membandingkan antara rencana (anggaran) dengan realisasi, seorang manajer yang memimpin suatu pusat pertanggungjawaban dapat mengetahui apakah sub unitnya telah mencapai sasaran secara efektif dan telah menggunakan sumber-sumber secara efisien.

Atas dasar prinsip inilah dikenal adanya pembagian struktur organisasi menjadi departemen produksi dan departemen jasa untuk kegiatan yang dilakukan di pabrik.

1. Deparlemen produksi

Departernen produksi merupakan depar temen (bagian) di dalam pabrik yang mengolah ballan mentah menjadi barang jadi/produk akhir dan menjadi bagian yang secara langsng memproses barang jadi. BOP yang terjadi di departemen produksi dikenal sebagai BOP langsung.

2. Departemen jasa

Departemen jasa merupakan departenren (bagian) di pabrik yang menyediakan jasanya dan secara tidak langsung ikut berperan dalam proses produksi. Biaya yang terjadi di departernen jasa ini mungkin sebagian dari jasa yang digunakan sendiri. Dengan demikian BOP yang terjadi di departemen jasa ini dikenal sebagai BOP tidak langsung Dua jenis biaya overhead pabrik, sesuai tanggung jawab masing-masing departemen (bagian), yaitu :

- BOP langsung

Adalah BOP yang terjadi di departemen tertentu dan manfaatnya hanya di nikmati oleh departemen tersebut. Contoh biaya ini adalah gaji mandor departemen produksi, biaya depresiasi mesin dan biaya bahan penolong

- BOP tidak langsung

Adalah BOP yang manfaatnya dinikmati oleh lebih dan siltu departemen. Contoh BOP ini adalah biaya depresi, pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik (dengan asumsi bahwa gedung digunakan oleh beberapa departemen produksi)

- Pembebanan BOP

Pembebanan BOP adalah cara mengalokasikan BOP dimana BOP bagian jasa secara langsung dialokasikan ke bagian produksi sesuai proporsi pemakaian jasanya. Berdasarkan pemakaian jasa alokasi BOP dibedakan dalam dua cara, yaitu :

a. Metode alokasi langsung (direct allocation method)

Dalam metode ini, BOP departemen jasa dialokasikan ke tiap-tiap departemen produksi yang menikmatinya. Metode alokasi langsung digunakan apabila jasa yang dihasilkan oleh departemen jasa hanya dinikmati oleh departemen produksi dan tidak ada departemen jasa lain yang menggunakaa jasa dari departemen jasa tersebut.

b. Metode alokasi bertahap (Step Method)

Metode ini digunakan apabila jasa yang dihasilkan departemen jasa tidak hanya dinikmati oleh departemen produksi saja, melainkan digunakan pula oleh departemen jasa yang lain. Sebagai contoh bagian jasa terdiri dari bagian pembangkit tenaga listrik dan bagian reparasi. Bagian pembangkit tenaga listrik menggunakan sebagian jasa yang disediakan oleh bagian reparasi untuk memperbaiki mesin-nesin diesel. Sebaliknya bagian reparasi menggunakan pula sebagian jasa yang disediakan oleh bagian pembangkit listrik untuk menggerakkan peralatan reparasinya.

C. PENYUSUNAN ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK

Tarif BOP (overhead rate) diperlukan dalam rangka penentuan harga pokok produksi. Berdasarkan penentuan biaya BOP untuk masing-masing bagian, maka dapat dihitung tarif BOP dengan cara membapi BOP yang dianggarkan dengan tingkat kegiatan di masing-masing departemen. Dalam penyusunan anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan (kapasitas) yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP, antara laian :

a. Kapasitas praktis

Untuk menentukan besarnya kapasitas praktis dan kapasitas normal terlebih dahulu hams ditentukan kapasitas teoritis, yakni volume produksi maksimum yang dapat dihasilkan oleh pabrik. Kapasitas teoritis dapat diartikan sebagi kapasitas pabrik atau suatu departemen untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu. Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Penerapan kapasitas praktis ini perlu dilakukan karena sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis. Dengan demikian perlu diperhitungkan kelonggaran waktu dalam penentuan kapasitas seperti panghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena kerusakan mesin.

b. Kapasitas normal

Adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Jika dalam penentuan kapasitas praktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor intern perusahaan, maka dalasn penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.

c. Kapasilas sesungguhnya yang diharapkan

Adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Jika anggaran BOP didasarkan pada kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, maka berarti ramalan penjualan tahun yang akan datang dipakai sebagai dasar penentuan kapasitas, sedangkan jika anggaran tersebut didasarkan pada kapasitas praktis dan normal, maka titik berat diletakkan pada kapasitas fisik pabrik.

Penentuan tarif BOP atas dasr kapasitas sesungguhnya yang diharapkan merupakan pendekatan jangka pendek, dan metode ini umumnya mengakibatkan digunakannya tarif yang berbeda dari periode ke periode.

ANGGARAN TENAGA KERJA

ANGGARAN TENAGA KERJA

Konten [Tampil]

1. Pengertian anggaran tenaga kerja

a. Tenaga kerja langsung adalah para tenaga kerja yang langsung menangani kegiatan proses produksi. Dengan demikian tenaga kerja langsung merupakan tenaga kerja di pabrik yang terlibat langsung dalam kegiatan proses produksi mulai dari bahan mentah sampai berbentuk barang jadi, jasanya dapat ditelusuri secara langsung pada produk dan upahnya merupakan biaya yang besar dalam memproduksi produk.

b. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak terlibat pada proses produksi dan jasanya tidak dapat secara langsung ditelusuri pada produk. Upah tenaga ini disebut biaya tenaga kerja tidak langsung dan merupakan unsur biaya overhead.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain : 

1. kebutuhan tenaga kerja, berbagai cara dilakukan oleh perusahaan untuk mencari dan mendapatkan tenaga kerja yang baik dan terampil, yang cocok untuk bidang pekerjaannya. 

2. pencarian atau penarikan tenaga kerja, dengan seleksi tenaga kerja baru dilakukan dengan berbagai cara selain diadakan ujian tertulis dan lisan juga diadakan psychotest untuk mengetahui secara lebih pasti siapa yang paling cocok untuk bidang pekerjaan yang tersedia. 

3. latihan bagi tenaga kerja baru; diberikan oleh pihak perusahaan sendiri dapat pula diberikan oleh lembaga khusus yang memberikannya secara bersama-sama dengan para tenaga kerja baru dari perusahaan lain. 

4. evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi para tenaga kerja 

5. gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja 6. pengawasan tenaga kerja

Penggolongan tenaga kerja dan biaya tenaga kerja 

l. Berdasarkan fungsi pokok organisasi-organisasi dalam perusahaan manufaktur terbagi kedalam tiga fungsi pokok perusahaan yakni produksi, pemasaran dan administrasi. Pembagian ini bertujuan untuk membedakan biaya tenaga kerja yang nnerupakan unsur pokok dan biaya tenaga kerja non pabrik, yang merupakan harga pokok produksi, melainkan unsur biaya usaha. 

2. Berdasarkan kegiatan departemen-departemen dalam perusahaan, penggolongan kegiatan ini sesuai dengan bagian-bagian yang dibentuk dalam perusahaan tersebut. 

3. Berdasarkan jenis pekerjaan, penggolongan ini dilakukan dengan mengklasifikasikan tenaga kerja dalam sebuah departemen berdasarkan sifat pekerjaannya. 

4. Berdasarkan hubungannya dengan produk, tenaga kerja ini dikelompokkan menjadi dua yakni tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung.

Sifat-sifat tenaga kerja langsung:

1. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara langsung dengan kegiatan produksi 

2. Biaya yang dikeluarkan merupakan biaya variabel. 

3. Secara umum tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga kerja yang kegiatannya langsung dapat dihubungkan dengan produk akhir terutama dalam penentuan harga pokok

Tenaga kerja tidak langsung memiliki ciri-ciri:

l. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini tidak berhubungan secara langsung dengan tingkat kegiatan produksi 

2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya semi variabel 

3. Tempat bekerja untuk tenaga kerja ini tidak selalu di dalam pabrik, tetapi bisa diluar pabrik

2. Manfaat anggaran tenaga kerja langsung

  1. Penggunaan tenaga kerja secara lebih efisien karena rencana yang matang
  2. Pengeluaran/biaya tenaga kerja dapat drencanakan dan diatur secara lebih
  3. etisien
  4. Harga pokok barang dapat dihitung secara tepat
  5. Dipakai sebagai alat pengawasan biaya tenaga kerja

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran tenaga kerja langsung

1. Anggaran unit yang akan diproduksikan, khususnya rencana tentang .jenis (kualitas) dan jumlah (kuantitas) yang akan di produksikan dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang. 

2. Berbagai standard waktu (time standard) untuk mengerjakan proses produksi yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

  • Dengan cara yang mendasar pada data historis atau pengalaman di waktu-waktu yang lalu 
  • Dengan cara yang mendasar pada penelitian-penelitian khusus yang sering dinamakan time and motion study (penelitian gerak dan waktu) 

3. Sistem pembayaran upah yang dipakai perusahaan 

  • sistem upah menttrut waktu, yang menentukan bahwa besar kecilnya upah yang akan dibayarkan kepada masing-masing tenaga kerja tergantung pada banyak sedikitnya waktu kerja mereka. 
  • sistem upah menurut unit hasil (output), yang menentukan bahwa besar kecilnya upah yang akan di bayarkan kepada masing-masing tenaga kerja tergantung pada jumlah output yang mereka hasilkan selama bekerja. 
  • sistem upah dengan insentif, yang menentukan bahwa besar kecilnya upah yang akan di bayarkan kepada masing-masing tenaga kerja tergantung pada lamanya meraka bekerja atau jumlah unit hasil (output) yang diselesaikan ditambah dengan insentif yang besar kecilnya didasarkan pada prestasi dan ketrampilan kerja mereka.

4. Persiapan-persiapan dalam penyusunan anggaran tenaga kerja

Sebelum menyusun anggaran tenaga kerja pelu ditentukan terlebih dahulu dasar satuan utama yang digunakan untuk menghitungnya dengan membuat manning tabel, merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja yang menjelaskan:
  • jenis atau kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan
  • jumlah masing-masing jenis tenaga kerja tersebut pada berbagai tingkat  kegiatan
  • bagian-bagian yang membutuhkannya manning table disusun sebagai hasil pekiraan langsung masing-masing kepala bagian, perkiraan ini dapat  dilakukan dengan bedasarkan judgement tetapi dapat pula berdasarkan pengalaman-pengalaman pada waktu-waktu yang lalu, dengan berpedoman pada tingkat kegiatan perusahaan.
Anggaran tenaga kerja langsung merupakan perencanaan khusus tentang jam tenaga kerja langsung (DLH) dan biaya tenaga kerja langsung (DLC) menurut waktu jenis barang yang diproduksi.



Kamis, 01 Juli 2021

ANGGARAN BAHAN MENTAH

ANGGARAN BAHAN MENTAH

Konten [Tampil]

A. Pengertian Anggaran Bahan Mentah

Bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi dikelompokan menjadi dua yaitu :

1. Bahan mentah langsung (Direct Material) Yaitu seluruh bahan mentah dan suku cadang yang merupakan satu kesatuan bagian produk jadi dan dapat langsung didertifikasikan dengan biaya unit produk jadi.

2. Bahan Mentah tak Langsung (Indirect Material) yaitu bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi namun biayanya tidak dapat ditelusuri secara langsung pada tiap produk.

B. Tujuan Penyusunan Rencana Bahan Mentah

1. Memperkirakan junllah kebutuhan bahan nlentah 

2. Memperkirakan jumlah pembelian bahan mentah 

3. Memperkirakan kebutuhan dana tlntuk pembelian bahan mentah 

4. Memperkirakan komponen Harga Pokok Produksi dengan adanya pemakaian bahan mentah untuk proses produksi (Product Costing) 

5. Pengendalian bahan mentah

C. Anggaran Bahan Mentah terdiri dari Empat Sub Anggaran.

1. Anggaran kebutuhan bahan mentah (Materials Used Budget ) Anggaran ini merencanakan secara terperinci tentang jumlah unit bahan mentah dan suku cadang yang dibutuhkan untuk berproduksi selama periode yang akan datang. Anggaran ini harus menentukan jumlah tiap bahan mentah dan suku cadang menurut waktu, produk dan pusat tanggung jawab.

Tujuan Penyusunan Anggaran kebutuhan Bahan Mentah

Tujuan utama dari pembuatan anggaran kebutuhan bahan mentah ini adalah untuk menyediakan data untuk menyusun anggaran bahan mentah yang lain, yang secara terperinci bertujuan untuk :

1. Memberi data kepada bagian pembelian, sehingga bagian pembelian dapat melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian pembelian bahan mentah dengan baik 

2. Memberi data mituk penyusunan anggaran biaya bahan mentah setiap jenis produk 

3. Menentukan tingkat persediaan yang optimal 

4. Sebagai dasar perencanaan dan pengendalian pemakaian bahan mentah 

Dalam anggaran kebutuhan bahan mentah tercantum materi berikut : 

1. Jenis barang jadi yang dihasilkan 

2. Jenis bahan mentah yang digunakan 

3. Departemen (bagian) yang dilalui dalam proses produksi 

4. Standar penggunaan bahan mentah (SUR) 5. Waktu pemakaian Lahan nlentah (satuan vaktu : minggu, bulan, triwulan, semester) Untuk menyusun Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah digunakan formula  berikut 

222222222222

2. Anggaran Pembelian Bahan Mentah (Purchases Material Budget)

Anggaran pembelian menspesifikasi (1) jumlah setiap bahan mentah dan suku cadang yang akan dibeli, (2) penentuan waktu pembelian, dan (3) perkiraan besarnya biaya bahan mentah dan suku cadang yang dibeli (tiap pembelian dalam unit dan nilainya). Dengan demikian perbedaan anggaran pembelian ini dengan anggaran kebutuhan bahan mentah adalah (1) anggaran pembelian till menspesifikasi kuantitas (jumlah) yang berbeda, dari tiap,jenis bahan dan suku cadang. Perbedaan dalam jumlah dihasilkan dari perubahan tingkat persediaan barang dan suku cadang yang direncanakan. (2) Anggaran kebutuhan bahan mentah hanya menspesifikasi kuantitas bahan mentah, sedangkan anggaran pembelian mencangkup kuantitas dan nilainya.

Untuk membuat anggaran pembelian, manajer pembelian harus bertanggung jawab atas hal-hal berikut :

  • Mematuhi kebijakan manajemen tentang tingkat persediaan bahan mentah.
  • Menentukan jumlah unit dan waktu pembelian untuk setiap jenis bahan dan suku cadang.
  • Memperkirakan biaya per unit dari setiap bahan dan suku cadang yang akan dibeli

Formula:

Persediaan merupakan sumber daya yang menganggur namun memiliki nilai ekonomis. Persediaan mencerminkan investasi yang dirancang untuk memperlancar kegiatan produksi melayani pdanggan. Oleh karena menyimpan persediaan memerlukan dana yang ”berhenti” (tidak memberi hasil apa-apa dibanding jika digunakan untuk tujuan lain) maka pengolahan persediaan yang tepat sangat diperlukan yakni persediaan yang cukup tidak berlebihan maupun kekurangan.

Pengelolaan besarnya persediaan memiliki banyak manfaat karena selain dapat mengurangi biaya juga untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada dasarnya pengelolaan besarnya bahan mentah ini berfungsi untuk :

  • Penyangga proses produlai sehingga proses tersebut dapat berjalan secara kontiyu.
  • Menetapkan besarnya bahan mentah yang tepat untuk disimpan sebagai  sumber daya yang harus tetap ada.
  • Menangkal inflasi (fungsi "bedging"), yakni jika harga mengalami penurunun maka pembelian bahan mentah dapat ditetapkan dalam jumlah besar.  sedangkan jika harga naik maka perusahaan telah memiliki persediaan yang memadai untuk kegiatan perusahaan.
  • Menghindari kekurangan dan kelebihan bahan.
    • Jumlah Pembelian Yang Paling Ekonomis (EOQ) Jumlah pembelian yang paling ekonomis (Economic Order Quantity/EOQ) adalah jumlah bahan mentah yang setiap kali dilakukan pembelian menimbulkan biaya yang paling rendah, tetapi tidak  mengakibatkan kekurangan bahan. Untuk menghitung EOQ dipertimbangkan 2 jenis biaya paling variable

      • Biaya Pemesanan (Set Up Cost/Ordering Cost) Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan mentah. Biaya ini berubah sesuai dengan frekuensi pemesanan. Semakin sering melakukan pemesanan, biaya ini semakin  kecil.
        • Contoh :
        • 1) Biaya Persiapan Pemesanan
        • 2) Maya Pengiriman Pesanan
        • 3) Biaya Administrasi, dll
      • Biaya Penyimpanan (Holding Cost/Carrying Cost) Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan penyimpanan bahan mentah yang dibeli. Besarnya biaya penyimpanan ini tergantung pada jumlah bahan mentah yang dibeli setiap kali pembelian.
        • Contoh:
        • 1) Biaya pemeliharaan
        • 2) Biaya asuransi
        • 3) Biaya perbaikan Kerusakan

        • Dimana: 
        • R = Jumlah Permintaan (bahan mentah yanga akan dibeli) 
        • S = Biaya pemesanan 
        • P = Hanga per satuan harga mentah
        • I = Biaya Penyimpanan yang dinyatakaun dalam % dari persediaan rata-rata 
        • C/u = Biaya penyimpanan/satuan harga mentah

        • Contoh Kasus EOQ 

        • Suatu perusahaan menjual barang A dan ingin meminimumkan bahan-bahan mentah. Permintaan tahunan barang tersebut 10.000 satuan. Biaya pesan Rp. 200,00 setiap kali pesan dan harga setiap satuan Rp. 50,00. Biaya simpan Rp. 4,00 tiap unit barang setiap tahun atau sebesar 8 % dari persediaan rata-rata. Banyakmya hari dalam setahun untuk melakukan analisis adalah 250

        • Untuk mengilustrasikan aplikasi model EOQ, maka diketahui : 

        • R = Jumlah permintaan (bahan metah yang akan dibeli) : 10.000 unit 
        • S = Biaya pemesanan : Rp. 200,- 
        • C/u = Biaya simpan tahunan per unit : Rp. 4,-


      • Waktu Pembelian Bahan Mentah (Reorder Point) Untuk menjaga kelancaran proses produksi, perusahaan tidak cukup hanya menentukan jumlah bahan mentah yang dibeli. Harus ditentukan pula kapan (saat yang tepat) pemesanan bahan mentah yang dilakukan agar bahan mentah  tersebut dapat datang pada saat yang ditentukan. Bahan mentah yang datang terlambat akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses produksi, sebaliknya bahan mentah yang datangnya tenlalu awal (terlalu cepat) juga dapat menimbulkan masalah. Perusahaan harus menyediakan tempat penyimpanan ekstra dan menanggung biaya pemeliharaan ekstra.

      • Oleh karena itu perlu dipelajari beberapa faktor berikut:
        •  Biaya Kekurangan Bahan Mentah (Stock Out Cost) Adalah biaya yang terpaksa harus dikeluarkan perusahaan karena bahan yang dipesan datangnya lebih lambat dari waktu yang telah ditentukan. 
          • Contoh: 
          • Bila perusahaan membeli dengan cara biasa, harga per unit bahan mentah  adalah Rp. 50,- tetapi bila membeli dengan harga mendadak harganya Rp.53,- maka selisih biaya Rp. 3.- dapat dimasukkan sebagai biaya kekurangan bahan mentah.
        • Biaya Penyimpanan Tambahan (Extra Carrying Cost) Biaya yang dikeluarkan perusahaan karena bahan yang dipesan datang lebih cepat waktu yang ditentukan. Oleh karena bahan mentah datangnya lebih awal (lebih cepat), maka perusahaan harus menyediakan tempat  penyimpanan ekstra, biaya pemeliharaan ekstra, dan kemungkinan lain yang berhubungan dengan adanya penyimpanan ekstra tersebut.
        • Waktu Tunggu (Lead Time) Selain dua faktor diatas, untuk menentukan waktu pemesanan bahan mentah perlu diperhatikan lamanya menunggu (lead time) bahan mentah yang dipesan datang sejak pesanan dikirim sampai bahan mentah datang  ke perusahaan. Lead Time adalah jangka waktu sejak dilakukannya pemesanan sampai datangnya bahan mentah yang dipesan dan siap untuk digunakan dalam proses produksi. Setelah ketiga faktor tersebut diperhitungkan, maka dapat ditentukan Reorder Point atau waktu yang tepat dimana perusahaan harus melakukan pemesanan kembali bahan mentah yang diperlukan.
        • Persediaan Besi Persediaan Besi adalah persediaan minimal bahan mentah yang harus dipertahankan untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Besarnya persediaan besi ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain :
          • Kebiasaan supplier menyerahkan bahan mentah yang dipesan. Jika supplier selalu tepat waktu menyerahkan pesanan, maka risiko kehabisan bahan mentah relatif kecil, dengan demikian persediaan besi tidak perlu  terlalu besar. Sebaliknya jika kerap terlambat, maka kehabisan risiko  bahan relatif besar, sehingga perlu ada persediaan besi yang cukup besar pula. 
          • Jumlah bahan mentah yang dibeli tiap kali pesan. Apabila jumlah bahan mentah yang dibeli besar berarti persediaan rata-rata di atas persediaan besi besar pula, yang artinya risiko kehabisan bahan mentah relatif kecil. Sebaliknya bila, jumlah bahan mentah sekali pesan kecil, maka persediaan rata-rata diatas persediaan besi kecil pula, sehingga risiko kehabisan bahan mentah relatif besar dalam hal ini perlu persediaan besi yang besar.
          • Dapat diperkirakan atau tidaknya kebutuhan bahan mentah secara cepat. Bagi perusahaan yang dapat memperkirakan jumlah kebutuhan bahan mentah secar atepat, maka resiko kehabisan bahan mentah relatif kecil.  Sebaliknya jika jumlah kebutuhan bahan mentah tidak dapat diduga secara tepat, maka resiko kehabisan bahan mentah menjadi besar, sehingga perlu persediaan yang besar pula. 
          • Perbandingan antara biaya penyimpanan bahan mentah dan biaya ekstra  karena kehabisan bahan mentah. Apabila biaya penyimpanan tampak lebih besar daripada biaya ekstra akibat kehabisan bahan mentah, maka  tidak perlu adanya persediaan besi yang terlalu besar, dan begitu pula  sebaliknya bila kehabisan bahan mentah akan menimbulkan biaya ekstra yang lebih besar daripada biaya penyimpanan, maka perlu persediaan besi yang cukup besar

3. Anggaran Persediaan Bahan Mentah (Inventory Materials Budget)

Anggaran ini menentukan tingkat persediaan bahan mentah dan suku cadang yang direncanakan dalam bentuk biaya dan jumlahnya. Selisih jumlah unit antara kebutuhan bahan mentah dengan pembelian bahan mentah ditunjukkan sebagai peningkatan atau penurunan dalam anggaran persediaan barang dan suku cadang. Anggaran persediaan bahan mentah ini merupakan rencana tentang jumlah dan nilai bahan mentah yang menjadi persediaan dari waktu ke waktu. Dalam anggaran ini perlu dirinci hal-hal sebagai berikut:
1. Jenis bahan mentah yang digunakan
2. Jumlah masing-masing jenis bahan mentah yang tersisa sebagai 
persediaan.
3. Harga per unit masing-masing jenis bahan mentah
4. Nilai bahan mentah yang tersimpan sebagai persediaan
Formula:
Nilai = Unit Persediaan   x                          Harga Bahan
            Bahan Mentah     Bahan Mentah     Mentah/unit

4. Anggaran Biaya Bahan Mentah Yang Habis Untuk Produksi

Anggaran ini menentukan biaya yang direncanakan untuk bahan mentah dan suku cadang yang akan dipakai dalam proses produksi. Jika dalam anggaran kebutuhan bahan mentah merencanakan jumlah bahan mentah yang dibutuhkan untuk produksi, maka dalam anggaran biaya bahan mentah merencanakan jumlah biaya bahan mentah yang diperlukan untuk diproduksi. Anggaran ini dapat diartikan sebagai rencana tentang besarnya biaya bahan mentah yang diperlukan untuk proses produksi di masa yang akan datang.
Formula:
Biaya                   Unit Persediaan       Harga Bahan
Bahan Mentah = Bahan Mentah    X   Mentah/unit 

Penentuan Harga Pokok Bahan Mentah Yang Dipakai Dalam Produksi Oleh karena dalam satu periode akuntansi seringkali terjadi fluktuasi harga, maka harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dnegan pembelian yang lain. Oleh karena itu persediaan bahan mentah yang ada digudang mempunyai harga pokok per satuan yang berbeda-beda, meskipun jenisnya sama. Haki ini menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan mentah yang dipakai dalam produksi.
  1. Metode identitikasi khusus
  2. Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO (First In Firts Out))
  3. Metode masuk terakhir keluar pertama (LIFO (Last In First Out))
  4. Metode rata-rata bergerak (Moving Average)
  5. Metode biaya standar (standard price)
  6. Metode rata-rata harga pokok bahan baku akhir bulan

G. Pengendalian Bahan Mentah 

Anggaran bahan mentah dalam arti luas dapat berfungsi sebagai alat pengendali (controlling). Untuk itu diperlukan Performance Report laporan pelaksanaan) yang terdiri dari: 
1. Laporan Pelaksanaan Pembelian Bahan Mentah Dengan Analisis Varians sebagai berikut: 
    Varians Karena Jumlah Pembelian 
   (Tumlah Rencana - Jumlah Riil) x Harga Rencana 
    Varians Karena Harga Bahan Mentah 
    (Harga Rencana - Harga Riil) x Jumlah Rill 
    Total Varians 
    = Varians karena jumlah + Varians Karena Harga 
2. Laporan Pelaksanaan Pemakaian Bahan Mentah 
    Dengan Analisis Varians sebagai berikut: 
    Varians Efisien 
    = (Jumiah Rencana - Jumlah Riil) x Harga Rencana 
    Varians Harga
     = (Harga Rencana - Harga Rid) x jumlah Rill 
    Total Varians 
    = Varians Etisiensi + Varians Harga



ANGGARAN PRODUKSI

ANGGARAN PRODUKSI

Konten [Tampil]

1 PENGERTIAN ANGGARAN PRODUKSI

    Sebelum suatu perusahaan menyusun anggaran produksi terlebih dahulu perusahaan tersebut menentukan tingkat penjualan. Dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan anggaran produksi dalam arti luas yaitu penjabaran dari rencana penjualan menjadi rencana produksi. Sehingga kegiatan produksi tidak dapat berdiri sendiri melainkan aktivitas penunjang dari rencana penjualan.

    Sedangkan anggaran produksi dalam arti sempit juga disebut anggaran jumlah yang harus diproduksi adalah suatu perencanaan tingkat atau volume barang yang harus diproduksi oleh perusahaan agar sesuai dengan volume atau tingkat penjualan yang telah direncanakan. Hal ini merupakan salah satu bagian dari rencana perusahaan dibidang produksi.

Rencana perusahaan dalam bidang produksi yaitu :

l. Rencana tentang routing (urut-urutan) proses prodiksi sejak dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi. 

2. Rencana tentang lay-put (penempatan) serta penyusunan mesin-mesin dan peralatan produksi di dalam tempat dimana proses produksi akan diselenggarakan (pabrik). 

3. Rencana tentang scheduling produksi. 

4. Rencana tentang organisasi produksi yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang. 

5. Rencana tentang pengembangan produk selama periode yang akan datang. 

6. Rencana tentang biaya-biaya produksi selama periode yang akan datang, dsb.

Dalam perencanaan produksi mencakup masalah-masalah yang bersangkutan

dengan penentuan :

  • Tingkat produksi
  • Kebutuhan fasilitas-fasilitas produksi
  • Tingkat persediaan barang jadi

Anggaran produksi merupakan dasar untuk menyusun anggaran bahan mentah, anggaran tenaga kerja langsung dan anggaran biaya overhead pabrik. Sehingga hubungan antara tingkat penjualan,tingkat produksi, dan tingkat persediaan dapat digambarkan secara diagramatis seperti berikut ini :


2. TUJUAN PENYUSUNAN ANGGARAN PRODUKSI

Anggaran produksi merupakan alat untuk merencanakan, mengkoordinir kegiatan-kegiatan produksi dan mengkontrol kegiatan tersebut. Adapun tujuan dari penyusunan anggaran produksi yaitu :

  • Menunjang kegiatan penjualan, sehingga barang dapat disediakan sesuai dengan yang telah direncanakan.
  • Menjaga tingkat persediaan barang yang memadai.
  • Mengatur produksi sedemikian rupa sehingga biaya-biaya produksi barang yang dihasilkan akan seminimal mungkin.
Untuk membuat rencana produksi eksekutif produksi harus menyelesaikan masalah koordinasi penjualan, persediaan dan produksi sehingga menghasilkan biaya keseluruhan yang serendah mungkin. Pentingnya koordinasi perencanaan produksi tidak dapat terlalu ditekankan kerena mempengaruhi banyak keputusan yang berhubungan dengan biaya, komitmen modal, karyawan dan lainnya. Keputusan yang dibutuhkan untuk membuat rencana produksi mencakup berikut ini :

  1. Kebutuhan produksi total (menurut produk) untuk periode anggaran.
  2. Kebijakan persediaan mengenai tingkat produk jadi, produk dalam proses, dan biaya penyimpanan persediaan.
  3. Kebijakan kapasitas pabrik, seperti batasan permulaan yang diperbolehkan dari tingkat produksi yang stabil sepanjang tahun.
  4. Kecukupan fasilitas produksi.
  5. Tersedianya bahan langsung, komponen yang dibeli, dan tenaga kerja. 
  6. Panjangnya waktu pemrosesan.
  7. Jumlah yang ekonomis
  8. Waktu produksi sepanjang periode anggaran, menurut produk dan menurut pusat  tanggung jawab.

3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYUSUNAN
ANGGARAN PRODUKSI

Agar anggaran berfungsi dengan baik, maka taksiran-taksiran yang termuat didalamnya agar cukup akurat, sehingga tidak jauh beda dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penaksiran secara lebih akurat, diperlukan data, informasi dan pengalaman, yang merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun anggaran. Faktor-faktor tersebut antara lain :
  • Rencana tentang jenis dan jumlah barang yang akan dijual selama periode yang akan datang.
  • Kapasitas mesin dan peralatan produksi yang tersedi serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang.
  • Tenaga kerja yang tersedia.
  • Model kerja yang dimiliki perusahaan.
  • Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan.
  • Luas perusahaan yang optimal yaitu kapasitas produksi yang memberikan biaya  produksi rata-rata per unit yang paling rendah.
  • Kebijaksanaan perusahaan dibidang persediaan barang jadi.
  • Kebijaksanaan perusahaan dalam menetapkan pola produksi selama periode yang akan datang. Pola produksi terdiri dari 3 pola antara lain :
    • pola produksi stabil adalah perkembangan yang stabil dari jumlah unit yang  akan diproduksi dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.
    • Pola produksi yang bergelombang sesuai dan setingkat dengan gelombang dari pola penjualan ialah perkembangan jumlah unit yang akan diproduksi dari  waktu ke waktu selama periode yang akan datang, yang tidak stabil dan tidak teratur, melainkan berfluktuasi sesuai dan setingkat dengan fluktuasi penjualannya.
    • Pola produksi yang bergelombang secara lebih moderat dari pada gelombang  dari pola penjualan yaitu perkembangan jumlah unit yang akan diproduksi yang tidak stabil dan tidak teratur dari waktu ke waktu tetapi fluktuasinya tidak sesuai dan tidak setingkat dengan fluktuasi jumlah penjualannya, melainkan lebih moderat.

4. MENYUSUN ANGGARAN PRODUKSI

Secara garis besar anggaran produksi disusun dengan menggunakan rumus umum sebagai berikut : Tingkat penjualan ( dari anggaran penjualan ) .......................... XXX 
Tingkat persediaan akhir..............................................................XXX + Jumlah..........................................................................................XXX 
Tingkat persediaan awal ..............................................................XXX - 
tingkat produksi ...........................................................................XXX 

Selain cara penyusunan di atas ada pula cara yang dapat dilakukan untuk menyusun anggaran produksi dan pelaksanaannya :

  • Tahap Perencanaan
    • Menentukan periode waktu yang akan dipakai sebagai dasar dalam penyusunan bagian peroduksi
    • Menentukan jumlah satuan fisik dari barang yang harus dihasilkan. 
  • Tahap Pelaksanaan
    • Menentukan kapan barang diproduksi
    • Menentukan di mana barang akan diproduksi
    • Menentukan urut-urutan proses produksi
    • Menentukan standart penggunaan fasilitas-fasilitas produksi untuk mencapai  efisiensi
    • Menyusun program tentang penggunaan bahan mentah, buruh, service dan peralatan
    • Menyusun standart biaya produksi
    • Membuat perbaikan-perbaikan bilamana diperlukan.

Dalam menyusun anggaran produksi hal-hal yang harus diperhatikan antara
lain :

a. Mengutamakan stabilitas produksi terlebih dahulu yang harus ditentukan adalah kebutuhan selama 1 tahun dan kemudian memperkirakan kebutuhan setiap bulannya yang akhirnya antara tingkat persediaan dan kebutuhan harus disesuaikan agar produksi tetap stabil.
b. Mengutamakan pengendalian tingkat persediaan terlebih dahulu ditentukan perkiraan besarnya persediaan awal dan akhir tahun untuk mendapatkan tingkat persediaan yang perlu dari bulan ke bulan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1. selisih antara persediaan awal dan akhir tahun dibagi dengan 12, tetapi cara ini mempunyai kelemahan yaitu sering ditemukannya bilangan - bilangan yang tidak bulat sehingga sulit untuk dilaksanakan dengan tepat.
Persediaan awal tahun   =XXX unit
Persediaan akhir tahun  = XXX unit
Selisih                           = XXX unit
Selisih x 1 unit              = XXX unit (alokasi per bulan)
       12
2. selisih antara persediaan awal dan akhir tahun dibagi dengan suatu bilangan tertentu sehingga dihasilkan suatu bilangan bulat dan mudah dilaksanakan dengan tepat.
Persediaan awal tahun     = XXX unit
Persediaan akhir tahun    = XXX unit
Selisih                             = XXX unit
Selisih x 1 unit                = XXX unit
Angka pembagi yang menghasilkan bilangan bulat Pengalokasian ini pada dasarnya terserah pada kebijakan perusahaan atau pembuatan anggaran.
c. Cara kombinasi dimana baik tingkat persediaan maupun tingkat produksi samasama berfluktuasi pada batas-batas tertentu. 

5. ANGGARAN PRODUKSI SEBAGAI ALAT PERENCANAAN, PENGKOORDINASIAN DAN PENGAWASAN 

  • anggaran produksi disusun berdasarkan anggaran penjualan yang disusun sebelumnya yang disebabkan hal - hal yang berhubungan dengan produksi diselaraskan dengan kemampuan menjual. 
  • anggaran produksi mengkoordinasikan berapa jumlah yang akan diproduksi dengan keadaan financial, pemodalan, perkembangan produk dan tingkat penjualan. 
  • anggaran produksi sebagai pengawasan meliputi pengawasan kualitas, kuantitas dan biaya.

FORECAST PENJUALAN

FORECAST PENJUALAN

Konten [Tampil]

 

A. Pengertian Forecasting penjualan

Dalam dunia usaha sangat penting diperkirakan ha1-hal yang terjadi di   masa depan sebagai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Dalam  menjalankan usahanya salah satu dari dua pendekatan yakni :

  1. Pendekatan speculative, di mana perusahaan tidak dapat memperhitungkan resiko yang diakibatkan oleh ketidakpastian faktor-faktor intern dan ekstern.
  2. Pendekatan Cakulative risk, di mana perusahaan secara aktif melakukan efitimasi terhadap resiko yang diakibatkan oleh ketidakpastian faktor-faktor intern dan ekstern.

Faktar-faktor internal berupa :

l. kualitas dan kegunaan produk perusahaan yang terdiri dari:

  • bagaimana produk itu dipakai
  • mengapa orang membeli produk tersebut
  • penggunaan potensil produk
  • perubahan-perubahan yang dapat menaikan kegunaan produk

2. ongkos produksi dan distribusi produk perusahaan, yang menyangkut hal-hal

  • proses pembuatan produk
  • teknologi yang dipakai
  • bahan mentah yang dipakai
  • kapasitas produk
  • biaya memasarkan produk

3. kecakapan manajemen perusahaan sendiri (managerial skill) yang terdiri atas

  • penghayatan persoalan yang dihadapi
  • Kemampuan melakukan forecast
  • Kemampuan melihat reaksi pesaing

Sedangkan faktor-faktor eksternal terdiri dari : 

1. kecakapan manajemen pesaing

2. volume kegiatan perekonomian, yang ditentukan oleh :

  • konsumen dan tingkat daya belinya
  • manajer lain (produsen lain) yang sejenis
  • speculator
  • peraturan hukum yang mengatur produksi distribusi produk
  • keadaan politik
  • kondisi lingkungan
  • kehidupan organisasi ekonomi

3. barang subtitusi serta kemungkinan penemuan barang-barang yang lebih baik. 

4. selera rakyat.

    Dalam perusahaan terdapat konteks analisis masa mendatang yaitu  melakukan analisis peramalan (forecasting). Peramalan (forecasting) adalah  perkiraan mengenai sesuatu yang belum pernah terjadi sedangkan foresting   penjualan adalah proyek teknis daripada permintaan langganan potensial untuk  suatu waktu tertentu dengan berbagai asumsi peramalan (forecasting) selalu  bertujuan agar ramalan (forecast) yang dihasilkan mampu meminimumkan  pengaruh ketidakpastian yang dihadapi perusahaan. Dengan kata lain peramalan38  (forecasting) bertujuan mendapatkan perkiraan yang dapat meminimumkan   kesalahan meramal (forecast error).

B. Hubungan Forecast dengan Rencana Penjualan

    Forecast adalah ramalan tentang apa yang akan terjadi pada waktu yang   akan datang, sedangkan rencana penjualan merupakan penentuan penjualan yang   akan dilakukan pada waktu yang akan datang dengan demikian dapat dikatakan  bahwa forecast ramalan harus dipandang sebagai salah satu masukan dalam  pembuatan rencana.

    Forecast penjualan menjadi suatu alat yang penting yang dapat  mempengaruhi manajer dalam membuat perencanaan penjualan. Manajemen  perusahaan mungkin menerima, memodifikasi atau menolak ramalan penjualan  yang dihasilkan. Dalam rencana penjualan, perusahaan memasukan keputusan   manajemen berdasarkan hasil ramalan, masukan lain dan kebijakan manajemen   tentang hal-hal yang berkaitan (contoh volume penjualan, harga, usaha penjualan,   produksi dan biaya-biaya).

C. Pemilihan Metode Forecasting

    Forecast memiliki peran penting sebagai pedoman dalam pembuatan  rencana. Rencana kerja yang menggunakan Forecast akan lebih baik dibanding  tanpa forecast sama sekali.

    Terdadapat banyak metode yang dapat digunakan untuk melakukan  permalan, namun tidak seluruh metode sesuai untuk setiap masalah. Tidak ada   suatu metode Forecast yang universal dan sesuai untuk semua masalah. Suatu  metode mungkin sangat cocok untuk membuat forescast mengenai suatu hal,  namun belum tentu tepat untuk masalah lain. Oleh karena itu harus dapat   dilakukan pemilihan metode yang paling sesuai, yakni metode yang dapat  meminimumkan kesalahan forecasting. Untuk memilih metode forecasting  penjualan dipengaruhi berbagai faktor berikut: 

  • Sifat pruduk yang dijual
  • Metode distribusi yang dipakai (langsung - tak langsung)39
  • Besarnya perusahaan dibanding dengan pesaing-pesaingnya
  • Tingkat persaingan yang dihadapi
  • Data histories yang tersedia
  • Sitat permintaan produk yang bersangkutan

Forecast penjualan mempengaruhi, bahkan menentukan keputusan dan   kebijaksanaan yang diambil umpamanya :

    Sehingga dapat dikatakan bahwa forecast penjualan merupakan "pusat" dari  seluruh perencanaan perusahaan, dan ini akan menentukan potensi penjualan dan  luas pasar yang dikuasai mendatang.

    Penggunaan metode statistik saja secara keseluruhan masih kurang dapat  dipercaya hasilnya, sebab banyak hal yang tidak dapat diukur secara kuantitatif  seperti; perkembangan politik dan kebijaksanaan pemerintah, struktur masyarakat,  perubahan selera konsumen. Sebaliknya penggunaan judgment saja juga dianggap   kurang bijaksana dan justru banyak kelemahannya. Karena penggunaan judgment   kadang-kadang bersifat pribadi dan sukar dimengerti oleh pihak lain.

    Sehingga dapat dikatakan bahwa forecasting menghendaki perpaduan antara   analisa yang ilmiah dan pendapat pribadi perencana teknik statistik dipakai sebagai  alat primer sedangkan interpretasi dan judgment dipakai sebagai pelengkap.

D. Teknik-teknik dalam forecasting penjualan 

    Forecasting adalah suatu cara untuk mengukur atau menaksir kondisi bisnis di masa mendatang. Pengukuran tersebut bisa dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran secara kuantitatif biasanya menggunakan metode statistik dan matematik  sedangkan pengukuran secara kualitatif bisanya menggunakan judgement (pendapat). Sebenarnya kedua cara ini mempunyai banyak kelemahan-kelemahan. Penggunaan metode statistik saja secara keseluruhan masih kurang dapat dipercaya hasilnya, sebab  banyak hal yang tidak bisa diukur secara kuantitatif seperti perkembangan politik dan kebijakan pemerintah, struktur masyarakat, perubahan selera konsumen. Sebaliknya penggunaan judgement saja juga dianggap banyak kelemahan dan kurang bijaksana,  karena penggunaan judgement kadang-kadang bersifat pribadi dan sukar dimengerti  oleeh pihak lain.

    Sehingga dapat disimpulkan bahwa forecasting mengehndaki perpaduan antara  analisa ilmiah dan pendapat perencana. Teknik statistik dipakai sebagai alat primer  sedangkan judgement dipakai sebagai pelengkap.

1. Forecast Berdasarkan Pendapat

Biasanya digunakan untuk menyusun forecast penjualan maupun forecast   kondisi bisnis pada umumnya. Sumber pendapat yang dipakai antara lain : 

  • pendapat salesman, Para salesman diminta untuk mengukur apakah ada kemajuan atau kemunduran segala hal yang berhubungan dengan tingkat penjualan pada daerah masing-masing. Kemudian mereka diminta untuk mengestimasi tentang tingkat penjualan di daerah masing-masing di waktu mendatang.
  • pendapat sales manajer, perkiraan yang dikemukakan oleh salesman perlu dibandingkan dengan  perkiraan yang dibuat oleh kepala bagian penjualan.
  • pendapat para ahli (konsultan), jika perkiraan dari salesman dan kepala bagian penjualan sangat  bertentangan satu sama lain, perusahaan perlu meminta bantuan kepada para konsultan.
  • survey konsumen,  apabila ketiga pendapat tersebut masih kurang dapat dipertangung jawahkan, biasanya perusahaan melakukan penelitian langsung kepada konsumen.

2 Forecast berdasarkan perhitungan statistie

  • Analisis Trend, Trend adalah gerakan yang berjangka panjang, seolah-olah alun ombak  dan cenderung untuk menuju kesatu arah, menaik atau menurun.
    • Trend Bebas Dikatakan penerapan garis trend bebas karera tidak menggumakan  rumus matematika. Cantoh : suatu perusahaan ingin membuat forecast penjualan dengan  data sebagai berikut:

  •  metode least square
            Dengan persamaan trend : Y = a + bX
            Dimana :
            I. a = ΣY
                      n
            II. b. = ΣXY
                        ΣX2


Dimana :
A = jumlah pasang observasi 
h = koefisien regresi

4. Forecast dengan metode-metode Khusus

1. Analisa Industri 
Analisis ini berfokus pada kegiatan memperkirakan marked share yang  dimiliki perusahaan. Semakin besar market share yang dimiliki, menunjukkan posisi persaingan usaha yang lebih kuat dibanding perusahaan lain. Sebaliknya, market share yang kecil mencerminkan posisi perusahaan yang lebih lemah dibanding perusahaan lain.


Analisis industri meliputi :
  • menentukan proyeksi demand industri untuk mengetahui prospek perkembangan industri produk dimasa mendatang. 
  • menilai posisi perusahaan dalam industri sejenis, yang terukur dengan besarnya market share yang diperoleh perusahaan. 
  • proyeksi posisi perusahaan dimasa mendatang, melalui perhitungan 
  • Expected market share.

2. Analisis Lini Produk (Product Line)  Digunakan pada perusahaan-perusahaan yang menghasilkan lebih dari  satu produk masing-masing produk tidak dapat diambil kesamaannya dan harus dibuat forecast secara terpisah. 

3. penggunaan akhir Analisa ini digunakan pada perusahaan-perusahaan yang memproduksi  barang-barang tidak langsung dapat di konsumsi, melainkan masih memerlukan proses lebih lanjut untuk menjadi produk akhir.

ANGGARAN PENJUALAN

ANGGARAN PENJUALAN

Konten [Tampil]

Menurut Gunawan A. dkk. (2003:121) Anggaran penjualan merupakan dasar dilakukannya aktivitas-aktivitas yang lain, dan pada umumnya anggaran penjualan disusun terlebih dulu dari anggaran-anggaran yang lain. Tujuan utama perusahaan adalah memperoleh keuntungan. Keuntungan akan diperoleh apabila perusahaan menjual barang/jasa dengan harga yang lebih tinggi dari harga pokoknya. Ada beberapa masalah utama yang dihadapi pada saat akan menjual suatu barang/jasa pada umumnya adalah :

  • Barang/jasa apa yang akan dijual
  • Biaya-biaya yang perlu dikeluuarkan agar barang/jasa tersebut dapat terjual
  • Berapa harga barang/jasa tersebut agar mendatangkan keuntungan bagi perusahaan tetapi terjangkau oleh konsumen.

Dari pengertian tersebut sangat jelas bahwa anggaran penjualan hanyalah merupakan salah satu bagian saja dari seluruh rencana perusahaan dibidang pemasaran (sales planning). Dan ada beberapa rencana perusahaan di bidang pemasaran misalnya:

a. rencana tentang sasaran/tujuan pemasaran selama periode yang akan datang 

b. rencana tentang organisasi penjualan yang akan dipergunakan selama satu periode 

c. rencana saluran distribusi yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang 

d. rencana biaya tentang distribusi selama periode yang akan datang 

e. rencana tentang media-media promosi yang akan dipergunakan selama periode yang akan datang 

f. rencana terntang biaya promosi selama periode yang akan datang g. rencana tentang pengembangan produk selama periode yang akan datang dll.

B. Kegunaan/Tujuan anggaran penjualan 

Secara umum semua anggaran termasuk anggaran penjualan mempunyai tiga kegunaan/tujuan pokok yaitu: 

a. sebagai pedoman kerja 

b. sebagi alat pengkoordinasian kerja dan 

c. sebagai alat pengawasan kerja yang membantu manajement dalam memimpin jalannya perusahaan. Sedangkan secara khusus, anggaran penjualan berguna sebagai dasar penyusunan semua anggaran-anggaran dalam perusahaan.

C. Konsep anggaran penjualan 

Menurut Gunawan A. dkk. (2003:122) penyusunan konsep anggaran dapat dikatakan mencakup segala kegiatan dibidang penjualan. Ada beberapa komponen pokok konsep anggaran penjualan antara lain: 

1. Dasar-dasar penyusunan anggaran 

  • Menyusun tujuan perusahaan 
  • Menyusun strategi perusahaan 
  • Menyusun forecast penjualan 

2. Menyusun anggaran penjualan 

a. Anggaran promosi dan advertensi 

b. Anggaran biaya-biaya penjualan 

c. Rencana pemasaran 

penyusunan anggaran penjualan harus sesuai dengan tujuan umum perusahaan dan strategi perusahaan. Dalam melakukan penganggaran penjualan perlu dipertimbangkan beberapa faktor tertentu seperti : 

1. Karakteristik pasar yang dihadapi perusahaan seperti : 

  • luas pasar:
    • bersifat local 
    • bersifat regional 
    • bersifat nasional 
  • Keadaan persaingan 
    • bersifat monopoli 
    • bersifat persaingan bebas 
    • bersifat persaingan monopolistis 
  • Kemampuan pasar untuk menyerap barang 
  • Keadaan/sifat konsumen, apakah konsumen merupakan 
    • konsumen akhir 
    • konsumen induatri 
2. Kemampuan financial 
  • kemampuan membiayai penelitian pasar yang dilakukan 
  • kemampuan membiayai usaha-usaha untuk mencapai target penjualan (modal kerja) 
  •  kemampuan membeli bahan mentah untuk mememihi target penjualan. 

3. Keadaan personalia 

  • Apakah jumlah tenaga kerja yang tersedia cukup, kurang atau berlebihan 
  • Apakah tenaga yang tersedia mampu untuk melakukan tugas-tugasnya agar target yang ditentukan tercapai. 

4. Deminsi waktu Hal ini perlu diperhatikan sebab apabila membuat rencana terlalu awal kemungkinan akan terjadi perubahan keadaan dan juga perlu di pertimbangkan sampai seberapa lama rencana yang disusun tersebut masih reable.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran penjualan

Menurut M. Munandar (1985:52) suatu anggaran dapat berfungsi dengan baik bilamana taksiran-taksiran yang termuat di dalamnya cukup akurat sehingga tidak jauh beda dengan realisasinya. Dan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok: 

1. Faktor internal Adalah data informasi dan pengalaman yang terdapat dalam perusahaan sendiri. Factor internal tersebut juga memiliki beberapa factor antara lain berupa: 

  • Penjualan tahun sebelumnya yang meliputi kualitas, kuantitas, harga, waktu maupun tempat penjualan. 
  • Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah penjualan. 
  • Kapasitas produk yang dimiliki perusahaan, serta kemungkinan perluasannya diwaktu yang akan datang 
  • Tenaga kerja yang tersedia 
  • Modal kerja yang dimilki perusahaan 
  • Fasitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan 

2. Faktor eksternal Adalah data informasi dan pengalami yang terdapat di luar perusahaan, tetapi disana mempunyai pengaruh terhadap anggaran penjualan perusahaan. factor ekternal tersebut juga memiliki beberapa factor antara lain berupa: 

  • Keadaan persaingan di pasar 
  • Posisi perusahaan dalam persaingan 
  • Tingkat pertumbuhan penduduk 
  • Tingkat penghasilan masyarakat 
  • Elastisitas pennintan terhadap harga barang yang dihasilkan perusahaan (demand elasticity) 
  • Agama, dan budaya masyarakat. 
  • Berbagai kebijaksanaan pemerintah. 
  • Keadaan perekonomian nasional maupun internasianal 
  • Kemajuan teknologi. 

Menurut Gunawan A. dkk. (2003:128) rencana penjualan agar realistis perlu mempertimbangkan beberapa faktor diantaranya yaitu: 

1. Faktor Eksternal Adalah yakni pengaruh yang datangnya dari luar perusahaan. Pengaruh ini tidak dapat diabaikan, bahkan perusahaan harus berusaha mengambil segi-segi positif dari pengaruh ini dan memamfaatkannya pengaruh yang datang dari luar perusahaan yang meliputi: 

  • Kebutuhan masyarakat akan produk 
  • Harapan pemerintah terhadap industri 
  • Persaingan diantara pengusaha 

2. Faktor internal Adalah yakni factor atau kekuatan yang datangnya dari dalam perusahaan sendiri misalnya : Kapasitas produksi yang dimiliki dan akan dimiliki pada waktu mendatang Kemampuan perusahaan untuk merebut pasaran Kemampuan pembelanjaan yang dimiliki perusahaan

3. Factor kehendak dari pimpinan perusahaan tentang posisi yang ingin dimiliki perusahaan di masa yang akan datang.

E. Politik harga dalam anggaran penjualan 

Menurut Gunawan A. dkk. (2003:124) penetapan harga jual per unit produk sangat berpengaruh dalam penyusunan anggaran penjualan, Tetapi juga saling ketergantungan antara kuantitas (volume) penjualan yang diharapkan dengan tingkat harga yang direncanakan. Oleh kerena itu manajemen harus betulbetul memperhatikan masalah kebijakan penetapan harga. Ada dua dasar yang berhubungan dengan masalah penentuan harga, dalam hubungannya dengan volume penjualan yaitu: 

  • Estimasi terhadap kurfa permintaan 
  • Kurva biaya per unit. 

Manajer seringkali kesulitan dalam mengambil keputusan seandainya diharuskan memilih salah satu dari 2 kebijaksanaan : 

  • Menaikkan tingkat harga perunit produk tetapi volume penjualan dalam unit menurun 
  • Meneurunkan tingkat harga perunit produk tetapi volume penjualan akan meningkat 

Contoh soal : sebuah perusahaan semula mengharapakan dapat menjual 5000 unit produknya dengan harga Rp. 2,- per unit. Biaya-biaya yang ditanggung adalah Rp. 3000,- yang bersifat tetap dan Rp. 4000,- bersifat variabel. Tetapi akhir-akhir ini diperkirakan bahwa target tersebut tidak dapat dicapai lagi. Manajemen dihadapkan pada 3 alternatif kebijaksanaan yang harus dipilihnya yakni : 

  1. mempertahankan seperti apa yang direncanakan 
  2. menaikkan harga 10% turunnya volume 10% 
  3. menaikkan volume 10% dengan menurunkan harga dengan 10%

Meskipun antara alternatif 2 dan alternatif 3 terdapat kesamaan dalam nilai penjualan Rp.9.900 tetapi alternatif 3 mempunyai beban biaya yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena menaikkan tingkat penjualan tentu diikuti dengan kenaikan volume produksi. Kenaikan volume produksi mengakibatkan kenaikan biaya variabelnya. Akibatnya alternatif 2 mendatangkan laba yang lebih besar.

F. Pengaruh marketing terhadap penjualan dan langkah dalam penyusunan rencana penjualan. 

Di dalam langkah kenyataan yang lebih umum terjadi, besarnya penjalan yang akan dicapai tidak hanya tergantung pada tingkat harga yang kita pilih. Di dalam struktur persaingan yang sempurna justru perusahaan tidak bisa mempengaruhi tingkat harga. Dalam penyusunan anggaran penjualan langkah yang perlu dilakukan adalah : 
1. Penentuan dasar-dasar anggaran 
  • penentuan relevant variable yang pengaruhi penjualan 
  • penentuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan 
  • penentuan strategi pemasaran yang dipakai 
2. Penyusunan rencana penjualan 
  • analisa ekonomi moneter dengan mengadakan proyeksi terhadap aspek-aspek makro 
  • melakukan analisa industri 
  • melakukan analisa prestrasi penjualan yang lalu 
  • analisa penentuan prestasi penjualan yang akan datang 
  • menyusun forecast penjualan 
  • menentukan jumlah penjualan yang di anggarkan (budgeted sales) 
  • menghitung rugi laba/rugi yang mungkin diperoleh (budgeted profit)
  • mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah disetujui pada pihak lain yang berkepentingan

Rabu, 30 Juni 2021

ANGGARAN KOMPREHENSIF

ANGGARAN KOMPREHENSIF

Konten [Tampil]

 1. Pengertian Penyusunan Anggaran Komprehensif

Komprehensif artinya menyeluruh atau secara keseluruhan. Dalam penyusunan anggaran perusahaan dapat melakukan dengan dua cara yaitu secara sebagaian demi sebagaian (partial) dan secara keseluruhan (comprehensive). Anggaran Komprehensif yaitu Jenis kegiatan penganggaran yang intensitas penyusunananya mencakup seluruh aktivitas perusahaan baik bidang pemasaran, produksi, keuangan, dan adminitrasi umum. Sedangkan anggaran partial yaitu Jenis kegiatan penganggaran yang intensitas penyusunannya secara terbatas di salah satu aktivitas perusahaan yang sedang mengalami kesulitan, sehingga memerlukan perhatian sendiri. 

        Penyususnan anggarana komprehensif mendatangkan manfaat berupa adanya pendekatan secara sistematis terhadap kebijakan management serta mempermudah diadakannya evaluasi tujuan akhir perusahaan secra kuantitatif. 

Yang membedakan dalam penyusunan anggaran komprehensif dengan anggaran partial yaitu : 

1. Anggaran Komprehensif antara lain : 

  • Kondisi keuangan perusahaan yang memadai, sehingga perusahaan mampu menyusun anggaran secara lengkap dan menyeluruh. 
  • Mempersiapkan rencana-rencana pendahuluan secara keseluruhan. 
  • Menyusun rencana anggaran jangka panjang dan anggaran jangka pendek. 

2. Anggaran Partial antara lain : 

  • Kemampuan teknis yang terbatas dari kurangnya data untuk melakukan penyusunan anggaran secara lengkap dan menyeluruh. 
  • Kondisi keuangan perusahaan yang kurang memadai, sehingga perusahaan tidak mampu menyusun anggaran secara lengkap/ keseluruhan dan hanya dapat menyusun anggaran yang diperlukan saja.

2. Komponen-Komponen Di Dalam Penyusunan Anggaran Komprehensif. 

Komponen-komponen di dalam penyusunan anggaran komprehensif meliputi; 

1. Rencana Subtantif (Subtantive Plan) 
Rencana subtantif merupakan rencana yang mencerminkan tujuan yang ingin di capai perusahaan (baik jangka panjang dan jangka pendek). Dengan mengambarkan strategi-strategi perusahan, rencana spesifik, dan program organisasi serta komitmen manajemen yang sejalan dengan pencapaian jangka panjang dari tujuan dan perencanaan perusahaan. 
2. Rencana Keuangan (Finansial Plan). 
Rencana keuangan merupakan penyajian secara lebih terperinci, yang menerapkan tujuan manajemen, strategi yang di rencanakan, perencanaan dan kebijakan manajemen untuk periode waktu tertentu. Maka rencana keuangan di kelompokkan menjadi : 
a. Rencana Anggaran Jangka Panjang. Merupakan suatu perencanaan perusahaan untuk jangka waktu relatif lama, yakni lebih dari satu tahun atau bahkan lebih lima tahun atau sepuluh tahun. Rencana ini menjadi satu kesatuan yang utuh dari rencana-rencana yang disusun 18 untuk kegiatan setiap tahun, di buat sesuai dengan tujuan umum perusahaan, sasaran spesifik, dan strategi jangka panjang yang digambarkan sebelumnya. Rencana anggaran jangka panjang meliputi semua bidang aktivitas antara lain; 
  • Penjualan, harga pokok dan laba. 
  • Proyek besar dan penambahan investasi modal. 
  • Arus kas dan pembiayaan. 
b. Rencana Anggaran Jangka Pendek (Tahunan). 
Merupakan perencanaan kegiatan-kegiatan tahunan suatu perusahaan. secara khusus, manajer, pemilik dan pihak yang berkepentingan biasanya memerlukan jadwal, hasil dari rencana laba secara periodik, laporan kinerja dan evaluasi mengenai progress perusahaan. Oleh karena itu, laporan rencana dan progress biasanya di buat bulanan, tiga bulanan, atau tahunan. Rencana anggaran jangka pendek atau anggaran tahunan di kelompokkan dua jenis yakni; 
1. Rencana Operasional. Merupakan rencana seluruh kegiatan-kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Umumnya tujuan perusahaan adalah mendapatkan keuntungan. Anggaran operasional ini dibagi menjadi dua bagian yakni: 
  • Anggaran Proyeksi Laba/Rugi. Dalam anggaran ini dihitung atau ditaksir besarnya perkiraan laba, baik menurut bagian, jenis produk, maupun laba yang merupakan keseluruhan. 
  • Anggaran Pembantu Laporan Laba/ Rugi. Anggaran ini meliputi seluruh rencana kegiatan-kegiatan yang mendukung penyusunan laporan laba rugi (income statement) meliputi; 
    • Anggaran Penjualan. Anggaran penjualan mengambarkan tingkat pendapatan yang bakal di terima sebagai akibat dilakukannya penjualan-penjualan di masa yang akan datang, rencana penjualan menjadi unsur dasar dilakukanya penyusunan anggaran lain. Anggaran penjualan meliputi; 
    • Jenis produk yang dijual.
    •  Volume produk yang dijual. 
    • Harga produk persatuan.
    • Wilayah pemasaran. Dalam penyusunan anggaran penjualan agak sulit di lakukan, karena harus mempertimbangkan beberapa faktor pembatas seperti kemampuan menjual yang di miliki perusahaan. Akibatnya penyusunan anggaran penjualan memerlukan teknik forescating (peramalan) yang tepat, yang membuat estimasi kegiatan masa depan dengan mendasarkan diri pada pengalaman masa lalu. Perlu di perhatikan pula kemungkinan terjadi perubahan-perubahan di masa datang seperti; perubahan selera konsumen, tingkat harga dan penemuan-penemuan baru (kemajuan teknologi).
  • Wilayah pemasaran. Dalam penyusunan anggaran penjualan agak sulit di lakukan, karena harus mempertimbangkan beberapa faktor pembatas seperti kemampuan menjual yang di miliki perusahaan. Akibatnya penyusunan anggaran penjualan memerlukan teknik forescating (peramalan) yang tepat, yang membuat estimasi kegiatan masa depan dengan mendasarkan diri pada pengalaman masa lalu. Perlu di perhatikan pula kemungkinan terjadi perubahan-perubahan di masa datang seperti; perubahan selera konsumen, tingkat harga dan penemuan-penemuan baru (kemajuan teknologi).
Anggaran Produksi. 
Anggaran ini disusun memperhatikan segala kegiatan produksi, yang diperlukan untuk menunjang anggaran penjualan yang telah disusun. Anggaran produksi terdiri dari sub anggaran yakni; 
  • Anggaran Jumlah Yang Di Produksi. Anggaran ini menspesifikasikan kuantitas barang yang diinginkan untuk di produksi selama periode anggaran. Dalam anggaran produksi diperlukan pengembangan kebijakan mengenai tingkat produksi yang efisien, penggunaan fasilitas yang produktif dan tingkat persediaan (barang jadi dan persediaan barang dalam proses). 
  • Anggaran Bahan Mentah. Dalam suatu anggaran yang komprehensif, diperlukan perencanaan dan pengendalian bahan mentah dan komponen yang digunakan untuk menghasilkan produk jadi. untuk menjamin jumlah yang tepat dari bahan mentah dan komponennya benar-benar tersedia pada saat dibutuhkan dan untuk merencanakan jumlah biaya, maka rencana laba taktis harus mencakup; 
    • Anggaran yang terperinci yang menentukan jumlah dan biaya bahan mentah. 
    • Anggaran pembelian bahan mentah yang saling terkait.
  • Anggaran Tenaga Kerja Langsung. Anggaran tenaga kerja langsung mencakup kebutuhan atas tenaga kerja langsung yang direncanakan untuk memproduksi berbagai jenis dan kuantitas yang direncanakan dalam anggaran produksi. Anggaran tenaga kerja langsung dapat disajikan dalam beberapa cara seperti anggaran terpisah biasanya di buat menurut;
    • Jam tenga kerja langsung. 
    • Biaya tenaga kerja langsung.
  • Anggaran Biaya Overhead Pabrik. Anggaran semua jenis biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk, selain biaya materi dan biaya tenaga kerja langsung. 
  • Anggaran Biaya Distribusi. Anggaran ini mencakup semua biaya-biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan dalam hubungannya dengan kegiatan memasarkan produk. Termasuk ke dalam anggaran distribusi antara lain; biaya untuk salesman, supervisor, ongkos pengangkutan, biaya promosi, depresiasi (peralatan distribusi), biaya penginapan, baiaya makan, dan biaya asuransi.
  • Anggaran Biaya Umum dan Adminitrasi. Anggaran biaya umum adalah anggaran yang berisi semua biaya-- biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk direksi dan stafnya, bagian keuangan dan bagian adminitrasi. Anggaran adminitrasi merupakan anggaran yang berisi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk kegiatan-kegiatan yang menunjang usaha perusahaan di luar kegiatan pabrik.

2.  Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan ini disusun sebagai akibat terjadinya perubahan kekayaan, hutang, dan piutang perusahaan. Perubahan-perubahan tersebut diakibatkan oleh kegiatan yang dilakukan perusahaan. Anggaran ini meliputi; 
  • Anggaran Proyeksi Neraca. Anggaran proyeksi neraca mencerminkan perkiraan semua aktiva dan pasiva yang akan dimiliki oleh perusahaan pada akhir periode produksi. 
    • Aktiva meliputi; aktiva tetap dan aktiva lancar. 
    • Pasiva meliputi; utang jangka pendek, utang jangka panjang dan modal sendiri. 
  • Anggaran Pembantu Proyeksi Neraca. Anggaran ini merinci masing-masing pos yang ada dalam neraca, terutama pos-pos yang berhubungan dengan masalah likuiditas perusahaan. Pos-pos tersebut antara lain; 
  1. Anggaran kas yang terdiri dari; 
    1. Aliran kas masuk dapat berasal dari; penjualan produk secara tunai, penagihan piutang-piutang dari penjualan kredit, penerimaan-penerimaan lain (bunga dan dividen), penjualan aktiva dan pinjaman-pinjaman yang dilakukan. 
    2. Aliran kas keluar dapat berasal dari; pembelian bahan mentah untuk keperluan produksi, pembayaran upah tenaga kerja (buruh), macam-macam biaya yang di keluarkan (biaya sewa, listrik, dan telepon), pengeluaran-pengcluaran untuk kepentingan expansi 
  2. Anggaran piutang Anggraan piutang mendasarkan diri pada anggaran penjualan. Dalam kebijakan penjualan produk, sebagaian dilakukan secara kredit dengan ditentukan syarat-syarat pembayaran tertentu. 
  3. Anggaran utang Anggaran utang disusun dengan mendasarkan diri pada besarnya pembelian-pembelian secara kredit dan besarnya bunga pinjaman yang belum dibayar 
  4. Anggaran penambahan modal Anggaran penambahan modal pada dasarnya disusun untuk jangka panjang 
  5. Anggaran penyusutan aktiva Anggaran depresiasi perlu disusun secara khusus oleh perusahaan karena aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan lebih dari satu, usia masing-masing aktiva tetap berlainan dan metode perhitungan penyusustan masing-masing aktiva tetap berlaina

KONSEP DASAR PENGANGGARAN

KONSEP DASAR PENGANGGARAN

Konten [Tampil]

1.1. Pengertian Anggaran 

Para pengelola perusahaan akan selalu berupaya bertindak secara profesional dalam rangka mencapai apa yang menjadi tujuannya. Dalam prakteknya harus dilandasi oleh konsep-konsep manajemen yang memang sudah berlaku universal. 

Dalam pengelolaan perusahaan, manajemen menetapkan tujuan (goals) dan sasaran (objectives) dan kemudian membuat rencana kegiatan untuk rnencapai tujuan dan sasaran tersebut. Secara umum manajemen dapat diartikan sebagai suatu proses yang terdiri dari 3 perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengendalian (controlling) Jalan upaya mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dari keempat fungsi manajemen tersebut, maka planning merupakan fungsi yang memegang peranan yang sangat penting karena merupakan dasar bagi pelaksanaan fungsi-fungsi yang lain. Dalam kaitannya dengan fungsi planning dan controlling maka manajemen dihadapkan pada masalah pengambilan keputusan yang mencakup dua variabel pokok yaitu variabel inflow, yang merupakan kumpulan faktor yang diperlukan dalam proses produksi, modal, tenaga kerja dari material. Ini semua merupakan faktor yang menimbulkan biaya (cost), dan variabel outflow, yaitu hasil proses produksi yang merupakan faktor yang akan menghasilkan revenue bagi perusahaan. 

Aktivitas planning menghasilkan rencana (plan) yang terdiri dari elemen-elemen tujuan (goal), strategi (strategy), program (program), prosedur (procedure) dan anggaran (budget). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penganggaran merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan manajemen, khususnya dalam perencanaan. 

Proses penyusunan anggaran merupakan tahap akhir dari proses perencanaan menyeluruh perusahaan (total bussines planning). Perencanaan menyeluruh perusahaan ini dilaksanakan melalui empat tahap yaitu: 

1. penetapan filosofi dan misi, 

2. penetapan tujuan (goals) dan strategi, 

3. penyusunan program (programming), 

4. penyusunan anggaran (budgeting)

Anggaran adalah suatu pendekatan yang fprmal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung jawab manajemen dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan. Penganggaran (budgeting) menunjukan suatu proses sejak tahap persiapan yang diperlukan sebelum dimulainya penyusunan rencana, pengumpulan berbagai data dan informasi yang perlu, pembagian tugas perencanaan, penyusunan rencananya sendiri, implementasi dari rencana tersebut, sampai pada akhirnya tahap pengawasan dan evaluasi dari hasil rencana itu. Hasil dari kegiatan penganggaran (budgeting) adalah anggaran (budget).

Anggaran perusahaan dapat dianggap sebagai suatu sistem tunggal yang memiliki ciri khas tersendiri, oleh karena anggaran perusahaan tersebut mempunyai tujuan serta cara kerja tersendiri yang merupakan satu kebulatan dan yang berbeda dengan tujuan serta cara kerja tersendiri yang merupakan satu kebulatan dan yang berbeda dengan tujuan serta cara kerja sistem lain yang terdapat dalam perusahaan. Di samping itu anggaran perusahaan dapat juga diangap sebagai sub sistem yang memerlukan hubungan dengan sub sistem lain yang terdapat dalam perusahaan oleh karena anggaran perusahaan bukanlah satu-satunya alat perencanaan dan pengendalian yang ada dan diperlukan perusahaan. 

Dalam menyusun anggaran harus diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut: 

  1. Realistis, artinya sangat mungkin untuk dicapai 
  2. Luwes, artinya tidak kaku sehingga terdapat peluang untuk perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi 
  3. Kontinyu, artinya bahwa anggaran perusahaan memerlukan perhatian secara terus menerus dan bukan merupakan suatu usaha yang bersifat insidental.
1.2 Anggaran Versus Ramalan

1.3. Fungsi Anggaran 

Beberapa fungsi anggaran dalam proses manajemen adalah sebagai berikut : 
1. Di bidang Planning 
  • Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan dengan aktivitas yang akan dilaksanakan. 
  • Membantu mengarahkan seluruh sumber daya yang ada diperusahaan dalam menentukan arah atau aktivitas yang paling menguntungkan.
  • Membantu arah atau menunjang kebijaksanaan perusahaan 
  • Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan 
  • Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia 
  • Membantu pemakaian alat-alat fisik secara lebih efektif
2. Di bidang Coordinating 
  • Membantu mengkoordinir faktor sumber daya manusia dengan perusahaan 
  • Membantu menilai kesesuaian antara rencana aktivitas perusahaan dengan keadaan lingkungan usaha yang dihadapi 
  • Membantu menempatkan pemakaian modal pada saluran-saluran yang menguntungkan sesuai dan seimbang dengan program perusahaan 
  • Membantu mengetahui kelemahan dalam organisasi 
3. Di bidang Controlling 
  • Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran 
  • Membantu mencegah pemborosan 
  • Membantu menetapkan standar baru 

1.4. Tujuan Penyusunan Anggaran 

Berdasarkan ilustrasi yang telah digambarkan sebelumnya, dapat dikemukakan bahwa tujuan penyusunan anggaran adalah: 
  1. Untuk menyatakan harapan/sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga bisa mengindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai manajemen 
  2. Untuk mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga anggaran dimengerti, didukung, dan dilaksanakan 
  3. Untuk menyediakan rencana rinci mengenai aktivitas dengan maksud mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. 
  4. Untuk mengkoordinasikan cara/metode yang akan ditempuh dalam rangka memaksimalkan sumber daya 
  5. Untuk menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu dan kelompok, serta menyediakan informasi yang mendasari perlu tidaknya tindakan koreksi.

1.5. Klasifikasi Anggaran 

1) Berdasarkan ruang lingkup 
  • Anggaran komprehensif, yaitu anggaran perusahaan yang disusun dengan ruang lingkup yang menyeluruh yang mencakup seluruh aktivitas perusahaan 
  • Anggaran parsial yaitu anggaran perusahaan yang disusun dengan ruang lingkup yang terbatas yang hanya mencakup sebagian dari kegiatan perusahaan 
2) Berdasarkan fleksibilitasnya 
  • Anggaran fixed (fixed budget) yaitu anggaran yang disusun untuk periode waktu tertentu dimana volumenya sudah tertentu dan berdasarkan volume tersebut direncanakan revenue, cost, dan expenses, serta tidak diadakan revisi secara periodik. 
  • Anggaran kontinyu (continues budget) yaitu anggaran yang disusun untuk periode waktu tertentu di mana volumenya sudah tertentu dan berdasarkan volume tersebut direncanakan revenue, cost, dan expenses, tetapi diadakan revisi secara periodik dan ditambahkan anggaran untuk satu triwulan pada periode anggaran berikutnya
3) Berdasarkan jangka waktu 
  • Anggaran jangka pendek, yaitu anggaran operasional yang menunjukan rencana operasi atau kegiatan untuk satu periode akuntansi (biasanya 1 tahun) yang akan datang. Anggaran ini terdiri dari anggaran penjualan, anggaran produksi, anggaran pemakaian bahan langsung, anggaran pembelian bahan baku, anggaran upah langsung, anggaran biaya overhead, anggaran persediaan bahan baku dan barang jadi, anggaran biaya penjualan dan promosi, anggaran biaya administrasi, anggaran harga pokok barang yang dijual, anggaran rugi/laba yang diproyeksikan, anggaran sisa laba diproyeksikan, anggaran pendapatan dan pengeluaran lain-lain, anggaran tambahan modal, anggaran kas, piutang, dan daftar neraca yang diproyeksikan. 
  • Anggaran jangka panjang, yaitu anggaran yang menunjukan rencana investasi dalam tahun anggaran dengan waktu lebih dari satu tahun.

1.6. Keunggulan dan Kelemahan Anggaran 

Berdasarkan ulasan yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan beberapa keunggulan yang dapat diperoleh bila perusahaan menerapkan penyusunan anggaran yang baik, antara lain: 
  • Hasil yang diharapkan dari suatu rencana tertentu diproyeksikan sebelum rencana tersebut dilaksanakan. Bagi manajemen, hasil proyeksi ini menciptakan peluang untuk memilih rencana yang paling menguntungkan untuk dilaksanakan. 
  • Dalam menyusun anggaran, diperlukan analisis yang sangat teliti terhadap setiap tindakan yang akan dilakukan. Analisis ini sangat bermanfaat bagi manajemen sekalipun ada pilihan untuk tidak melanjutkan keputusan tersebut. 
  • Anggaran merupakan penelitian untuk kerja sehingga dapat dijadikan patokan untuk menilai baik buruknya suatu hasil yang diperoleh. 
  • Anggaran memerlukan adanya dukungan organisasi yang baik sehingga setiap manajer mengetahui kekuasaan, kewenangan, dan kewajibannya. Anggaran sekaligus berfungsi sebagai alat pengendalian pola kerja karyawan dalam melakukan suatu kegiatan 
  • Mengingat setiap manajer dan atau penyelia dilibatkan dalam penyusunan anggaran, maka memungkinkan terciptanya perasaan ikut berperan serta (sense of participation)

 Di samping beberapa keunggulan tersebut di atas, terdapat pula beberapa kelemahan antara lain: 

  1. Karena anggaran disusun berdasarkan estimasi (permintaan efektif, kapasitas produksi dan lain-lain) maka terlaksananya dengan baik kegiatan-kegiatan tergantung pada ketepatan estimasi tersebut. 
  2. Anggaran hanya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan secara sungguh-sungguh. 
  3. Anggaran hanya merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugas-tugasnya, bukan menggantikannya. 
  4. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, sebab itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.

1.7. Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran 

1. Faktor intern Faktor-faktor intern (controlable) antara lain berupa, 

  • adata penjualan pada tahun-tahun yang lalu, 
  • kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayaran barang yang dijual, promosinya, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya, 
  • kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan, 
  • tenaga kerja yang dimiliki perusahaan, baik jumlahnya maupun keterampilan dan keahliannya,
  • modal kerja yang dimiliki perusahaan, 
  • fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan dan 
  • kebijakan-kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perusahaan, baik dibidang pemasaran, produksi, pembelanjaan, administrasi maupun di bidang personalia. 

2. Faktor ekstern Faktor-faktor ekstern (uncontrolable) antara lain berupa, 

  • keadaan persaingan, 
  • tingkat pertumbuhan penduduk,
  • tingkat penghasilan masyarakat, 
  • tingkat penyebaran penduduk, 
  • agama, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat, 
  • berbagai kebijaksanaan pemerintah, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun keamanan, 
  • keadaan perekonomian nasional maupun internasional, kemajuan teknologi dan sebagainya.

1.8. Prinsip Penyusunan Anggaran 

Prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi dan ditaati agar suatu anggaran dapat disusun dan dilaksanakan adalah sebagai berikut: 

1. Management Involvement Keterlibatan manajemen dalam penyusunan rencana mempunyai makna bahwa manajemen mempunyai komitmen yang kuat untuk mencapai segala sesuatu yang direncanakan 2. Organizational Adaptation Suatu rencana keuangan harus disusun berdasar struktur organisasi dimana ada ketegasan garis wewenang dan tanggung jawab. Seorang manajer tidak dapat memindahkan tanggungjawab atas suatu pekerjaan walaupun dia dapat melimpahkan sebagian wewenangnya kepada bawahannya

3. Responsibility Accounting Agar rencana keuangan dapat dilaksanakan dengan baik, maka harus didukung adanya suatu sistem responsibility accounting yang polanya disesuaikan dngan pertanggungjawaban organisatoris 

4. Goal Orientation Penetapan tujuan yang realistis akan menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Jadi konsep management by objective dapat diterapkan 

5. Full communication Suatu perencanaan dan pengendalian dapat berjalan secara efektif apabila antara tingkatan manajemen mempunyai pemahaman yang sama tentang tanggung jawab dan sasaran yang harus dicapai 

6. Realistic Expectation Dalam perencanaan, manajemen harus menghindari konservatisme dan optimisme yang berlebihan yang menjadikan sasaran tidak dapat dicapai. Jadi manajemen harus menetapkan sasaran yang realistis artinya memungkinkan dapat dicapai 

7. Timeeliness Laporan-laporan berupa informasi mengenai realisasi rencana harus diterima oleh manajer yang berkompeten tepat pada waktunya agar informasi tersebut efektif dan berguna bagi manajemen 

8. Flexible Application Perencanan tidak boleh kaku tetapi harus terdapat celah untuk perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi 

9. Reward and Punishment Manajemen harus melakukan penilaian kinerja manajer berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan. Jadi manajer yang kinerjanya di bawah atau melebihi standar harus dapat diketahui sehingga pemberian suatu reward ataupun punishment oleh manajemen menjadi transparan.

1.9. Organisasi Penyusunan Anggaran 

Penyusunan anggaran dalam suatu organisasi biasanya dikoordinasikan oleh komite anggaran dan departemen anggaran. Prosedur penyusunan anggaran adalah sebagai berikut: 

1. Menganalisis informasi masa lalu, lingkungan luar yang diantisipasi, dan SWOT 

2. Menyusun perencanaan strategik dan program 

3. Mengkomunikasikan tujuan, strategi pokok, dan program 

4. Memilih taktik, mengkoordinasi, dan mengawasi operasi 

5. Menyusun usulan anggaran 

6. Menyerahkan revisi usulan anggaran 

7. Menyetujui revisi usulan anggaran dan merakit menjadi anggaran perusahaan 

8. Revisi dan penetapan final anggaran perusahaan untuk diajukan kepada pimpinan perusahaan, dan pengesahan biasanya dilakukan oleh pemilik perusahaan atau dalam PT pada RUPS

Keanggotaan dari komisi anggaran, antara lain: 

1. Salah seorang anggota direksi, Biasanya adalah direktur keuangan yang bertugas memberikan pedoman umum penyusunan anggaran juga menentukan tujuan perusahaan, baik tujuan umum maupun tujuan khusus 

2. Manajer pemasaran, Marketing manager bertugas menyusun anggazan penjualan (sales budget) dan anggaran biaya distribusi termasuk biaya iklan dan promosi. 

3. Manajer produksi Production, manager bertugas menyusun anggaran-anggaran yang berhubungan dengan seluruh kegiatan produksi, seperti: jumlah yang akan diprodusir, tenaga kerja, bahan baku, pembelian, factory overhead, depresiasi 

4. Manajer keuangan Financial, manager bertugas menyusun anggaran-anggaran yang berhubungan dengan posisi keuangan perusahaan 

5. Manajer bagian umum, Administrasi dan personalia Bertugas menyusun anggaran-anggaran yang berhubungan dengan biaya umum, administrasi dan personalia. 

Fungsi pokok komite anggaran, antara lain: 

  • Menentukan kebijaksanaan umum 
  • Meminta, menerima, dan menelaah taksiran anggaran individual 
  • Menyarankan revisi 
  • Menyetujui anggaran dan revisi anggaran 
  • Menerima dan menganalisa laporan anggaran 

Hubungan budgeting dengan akunting dapat dijabarkan sebagai berikut: 

  • Akunting menyediakan data historis untuk tujuan analisis dalam menyusun rencana perusahaan 
  • Komponen budgeting yang dinyatakan secara financial, disusun dalam format akunting 
  • Akunting menyediakan data aktual yang digunakan untuk evaluasi (performance report)

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done