ANGGARAN BAHAN MENTAH - Zupertau
News Update
Loading...

Kamis, 01 Juli 2021

ANGGARAN BAHAN MENTAH

A. Pengertian Anggaran Bahan Mentah

Bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi dikelompokan menjadi dua yaitu :

1. Bahan mentah langsung (Direct Material) Yaitu seluruh bahan mentah dan suku cadang yang merupakan satu kesatuan bagian produk jadi dan dapat langsung didertifikasikan dengan biaya unit produk jadi.

2. Bahan Mentah tak Langsung (Indirect Material) yaitu bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi namun biayanya tidak dapat ditelusuri secara langsung pada tiap produk.

B. Tujuan Penyusunan Rencana Bahan Mentah

1. Memperkirakan junllah kebutuhan bahan nlentah 

2. Memperkirakan jumlah pembelian bahan mentah 

3. Memperkirakan kebutuhan dana tlntuk pembelian bahan mentah 

4. Memperkirakan komponen Harga Pokok Produksi dengan adanya pemakaian bahan mentah untuk proses produksi (Product Costing) 

5. Pengendalian bahan mentah

C. Anggaran Bahan Mentah terdiri dari Empat Sub Anggaran.

1. Anggaran kebutuhan bahan mentah (Materials Used Budget ) Anggaran ini merencanakan secara terperinci tentang jumlah unit bahan mentah dan suku cadang yang dibutuhkan untuk berproduksi selama periode yang akan datang. Anggaran ini harus menentukan jumlah tiap bahan mentah dan suku cadang menurut waktu, produk dan pusat tanggung jawab.

Tujuan Penyusunan Anggaran kebutuhan Bahan Mentah

Tujuan utama dari pembuatan anggaran kebutuhan bahan mentah ini adalah untuk menyediakan data untuk menyusun anggaran bahan mentah yang lain, yang secara terperinci bertujuan untuk :

1. Memberi data kepada bagian pembelian, sehingga bagian pembelian dapat melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian pembelian bahan mentah dengan baik 

2. Memberi data mituk penyusunan anggaran biaya bahan mentah setiap jenis produk 

3. Menentukan tingkat persediaan yang optimal 

4. Sebagai dasar perencanaan dan pengendalian pemakaian bahan mentah 

Dalam anggaran kebutuhan bahan mentah tercantum materi berikut : 

1. Jenis barang jadi yang dihasilkan 

2. Jenis bahan mentah yang digunakan 

3. Departemen (bagian) yang dilalui dalam proses produksi 

4. Standar penggunaan bahan mentah (SUR) 5. Waktu pemakaian Lahan nlentah (satuan vaktu : minggu, bulan, triwulan, semester) Untuk menyusun Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah digunakan formula  berikut 

222222222222

2. Anggaran Pembelian Bahan Mentah (Purchases Material Budget)

Anggaran pembelian menspesifikasi (1) jumlah setiap bahan mentah dan suku cadang yang akan dibeli, (2) penentuan waktu pembelian, dan (3) perkiraan besarnya biaya bahan mentah dan suku cadang yang dibeli (tiap pembelian dalam unit dan nilainya). Dengan demikian perbedaan anggaran pembelian ini dengan anggaran kebutuhan bahan mentah adalah (1) anggaran pembelian till menspesifikasi kuantitas (jumlah) yang berbeda, dari tiap,jenis bahan dan suku cadang. Perbedaan dalam jumlah dihasilkan dari perubahan tingkat persediaan barang dan suku cadang yang direncanakan. (2) Anggaran kebutuhan bahan mentah hanya menspesifikasi kuantitas bahan mentah, sedangkan anggaran pembelian mencangkup kuantitas dan nilainya.

Untuk membuat anggaran pembelian, manajer pembelian harus bertanggung jawab atas hal-hal berikut :

  • Mematuhi kebijakan manajemen tentang tingkat persediaan bahan mentah.
  • Menentukan jumlah unit dan waktu pembelian untuk setiap jenis bahan dan suku cadang.
  • Memperkirakan biaya per unit dari setiap bahan dan suku cadang yang akan dibeli

Formula:

Persediaan merupakan sumber daya yang menganggur namun memiliki nilai ekonomis. Persediaan mencerminkan investasi yang dirancang untuk memperlancar kegiatan produksi melayani pdanggan. Oleh karena menyimpan persediaan memerlukan dana yang ”berhenti” (tidak memberi hasil apa-apa dibanding jika digunakan untuk tujuan lain) maka pengolahan persediaan yang tepat sangat diperlukan yakni persediaan yang cukup tidak berlebihan maupun kekurangan.

Pengelolaan besarnya persediaan memiliki banyak manfaat karena selain dapat mengurangi biaya juga untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Pada dasarnya pengelolaan besarnya bahan mentah ini berfungsi untuk :

  • Penyangga proses produlai sehingga proses tersebut dapat berjalan secara kontiyu.
  • Menetapkan besarnya bahan mentah yang tepat untuk disimpan sebagai  sumber daya yang harus tetap ada.
  • Menangkal inflasi (fungsi "bedging"), yakni jika harga mengalami penurunun maka pembelian bahan mentah dapat ditetapkan dalam jumlah besar.  sedangkan jika harga naik maka perusahaan telah memiliki persediaan yang memadai untuk kegiatan perusahaan.
  • Menghindari kekurangan dan kelebihan bahan.
    • Jumlah Pembelian Yang Paling Ekonomis (EOQ) Jumlah pembelian yang paling ekonomis (Economic Order Quantity/EOQ) adalah jumlah bahan mentah yang setiap kali dilakukan pembelian menimbulkan biaya yang paling rendah, tetapi tidak  mengakibatkan kekurangan bahan. Untuk menghitung EOQ dipertimbangkan 2 jenis biaya paling variable

      • Biaya Pemesanan (Set Up Cost/Ordering Cost) Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan mentah. Biaya ini berubah sesuai dengan frekuensi pemesanan. Semakin sering melakukan pemesanan, biaya ini semakin  kecil.
        • Contoh :
        • 1) Biaya Persiapan Pemesanan
        • 2) Maya Pengiriman Pesanan
        • 3) Biaya Administrasi, dll
      • Biaya Penyimpanan (Holding Cost/Carrying Cost) Adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan penyimpanan bahan mentah yang dibeli. Besarnya biaya penyimpanan ini tergantung pada jumlah bahan mentah yang dibeli setiap kali pembelian.
        • Contoh:
        • 1) Biaya pemeliharaan
        • 2) Biaya asuransi
        • 3) Biaya perbaikan Kerusakan

        • Dimana: 
        • R = Jumlah Permintaan (bahan mentah yanga akan dibeli) 
        • S = Biaya pemesanan 
        • P = Hanga per satuan harga mentah
        • I = Biaya Penyimpanan yang dinyatakaun dalam % dari persediaan rata-rata 
        • C/u = Biaya penyimpanan/satuan harga mentah

        • Contoh Kasus EOQ 

        • Suatu perusahaan menjual barang A dan ingin meminimumkan bahan-bahan mentah. Permintaan tahunan barang tersebut 10.000 satuan. Biaya pesan Rp. 200,00 setiap kali pesan dan harga setiap satuan Rp. 50,00. Biaya simpan Rp. 4,00 tiap unit barang setiap tahun atau sebesar 8 % dari persediaan rata-rata. Banyakmya hari dalam setahun untuk melakukan analisis adalah 250

        • Untuk mengilustrasikan aplikasi model EOQ, maka diketahui : 

        • R = Jumlah permintaan (bahan metah yang akan dibeli) : 10.000 unit 
        • S = Biaya pemesanan : Rp. 200,- 
        • C/u = Biaya simpan tahunan per unit : Rp. 4,-


      • Waktu Pembelian Bahan Mentah (Reorder Point) Untuk menjaga kelancaran proses produksi, perusahaan tidak cukup hanya menentukan jumlah bahan mentah yang dibeli. Harus ditentukan pula kapan (saat yang tepat) pemesanan bahan mentah yang dilakukan agar bahan mentah  tersebut dapat datang pada saat yang ditentukan. Bahan mentah yang datang terlambat akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses produksi, sebaliknya bahan mentah yang datangnya tenlalu awal (terlalu cepat) juga dapat menimbulkan masalah. Perusahaan harus menyediakan tempat penyimpanan ekstra dan menanggung biaya pemeliharaan ekstra.

      • Oleh karena itu perlu dipelajari beberapa faktor berikut:
        •  Biaya Kekurangan Bahan Mentah (Stock Out Cost) Adalah biaya yang terpaksa harus dikeluarkan perusahaan karena bahan yang dipesan datangnya lebih lambat dari waktu yang telah ditentukan. 
          • Contoh: 
          • Bila perusahaan membeli dengan cara biasa, harga per unit bahan mentah  adalah Rp. 50,- tetapi bila membeli dengan harga mendadak harganya Rp.53,- maka selisih biaya Rp. 3.- dapat dimasukkan sebagai biaya kekurangan bahan mentah.
        • Biaya Penyimpanan Tambahan (Extra Carrying Cost) Biaya yang dikeluarkan perusahaan karena bahan yang dipesan datang lebih cepat waktu yang ditentukan. Oleh karena bahan mentah datangnya lebih awal (lebih cepat), maka perusahaan harus menyediakan tempat  penyimpanan ekstra, biaya pemeliharaan ekstra, dan kemungkinan lain yang berhubungan dengan adanya penyimpanan ekstra tersebut.
        • Waktu Tunggu (Lead Time) Selain dua faktor diatas, untuk menentukan waktu pemesanan bahan mentah perlu diperhatikan lamanya menunggu (lead time) bahan mentah yang dipesan datang sejak pesanan dikirim sampai bahan mentah datang  ke perusahaan. Lead Time adalah jangka waktu sejak dilakukannya pemesanan sampai datangnya bahan mentah yang dipesan dan siap untuk digunakan dalam proses produksi. Setelah ketiga faktor tersebut diperhitungkan, maka dapat ditentukan Reorder Point atau waktu yang tepat dimana perusahaan harus melakukan pemesanan kembali bahan mentah yang diperlukan.
        • Persediaan Besi Persediaan Besi adalah persediaan minimal bahan mentah yang harus dipertahankan untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Besarnya persediaan besi ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain :
          • Kebiasaan supplier menyerahkan bahan mentah yang dipesan. Jika supplier selalu tepat waktu menyerahkan pesanan, maka risiko kehabisan bahan mentah relatif kecil, dengan demikian persediaan besi tidak perlu  terlalu besar. Sebaliknya jika kerap terlambat, maka kehabisan risiko  bahan relatif besar, sehingga perlu ada persediaan besi yang cukup besar pula. 
          • Jumlah bahan mentah yang dibeli tiap kali pesan. Apabila jumlah bahan mentah yang dibeli besar berarti persediaan rata-rata di atas persediaan besi besar pula, yang artinya risiko kehabisan bahan mentah relatif kecil. Sebaliknya bila, jumlah bahan mentah sekali pesan kecil, maka persediaan rata-rata diatas persediaan besi kecil pula, sehingga risiko kehabisan bahan mentah relatif besar dalam hal ini perlu persediaan besi yang besar.
          • Dapat diperkirakan atau tidaknya kebutuhan bahan mentah secara cepat. Bagi perusahaan yang dapat memperkirakan jumlah kebutuhan bahan mentah secar atepat, maka resiko kehabisan bahan mentah relatif kecil.  Sebaliknya jika jumlah kebutuhan bahan mentah tidak dapat diduga secara tepat, maka resiko kehabisan bahan mentah menjadi besar, sehingga perlu persediaan yang besar pula. 
          • Perbandingan antara biaya penyimpanan bahan mentah dan biaya ekstra  karena kehabisan bahan mentah. Apabila biaya penyimpanan tampak lebih besar daripada biaya ekstra akibat kehabisan bahan mentah, maka  tidak perlu adanya persediaan besi yang terlalu besar, dan begitu pula  sebaliknya bila kehabisan bahan mentah akan menimbulkan biaya ekstra yang lebih besar daripada biaya penyimpanan, maka perlu persediaan besi yang cukup besar

3. Anggaran Persediaan Bahan Mentah (Inventory Materials Budget)

Anggaran ini menentukan tingkat persediaan bahan mentah dan suku cadang yang direncanakan dalam bentuk biaya dan jumlahnya. Selisih jumlah unit antara kebutuhan bahan mentah dengan pembelian bahan mentah ditunjukkan sebagai peningkatan atau penurunan dalam anggaran persediaan barang dan suku cadang. Anggaran persediaan bahan mentah ini merupakan rencana tentang jumlah dan nilai bahan mentah yang menjadi persediaan dari waktu ke waktu. Dalam anggaran ini perlu dirinci hal-hal sebagai berikut:
1. Jenis bahan mentah yang digunakan
2. Jumlah masing-masing jenis bahan mentah yang tersisa sebagai 
persediaan.
3. Harga per unit masing-masing jenis bahan mentah
4. Nilai bahan mentah yang tersimpan sebagai persediaan
Formula:
Nilai = Unit Persediaan   x                          Harga Bahan
            Bahan Mentah     Bahan Mentah     Mentah/unit

4. Anggaran Biaya Bahan Mentah Yang Habis Untuk Produksi

Anggaran ini menentukan biaya yang direncanakan untuk bahan mentah dan suku cadang yang akan dipakai dalam proses produksi. Jika dalam anggaran kebutuhan bahan mentah merencanakan jumlah bahan mentah yang dibutuhkan untuk produksi, maka dalam anggaran biaya bahan mentah merencanakan jumlah biaya bahan mentah yang diperlukan untuk diproduksi. Anggaran ini dapat diartikan sebagai rencana tentang besarnya biaya bahan mentah yang diperlukan untuk proses produksi di masa yang akan datang.
Formula:
Biaya                   Unit Persediaan       Harga Bahan
Bahan Mentah = Bahan Mentah    X   Mentah/unit 

Penentuan Harga Pokok Bahan Mentah Yang Dipakai Dalam Produksi Oleh karena dalam satu periode akuntansi seringkali terjadi fluktuasi harga, maka harga beli bahan baku juga berbeda dari pembelian yang satu dnegan pembelian yang lain. Oleh karena itu persediaan bahan mentah yang ada digudang mempunyai harga pokok per satuan yang berbeda-beda, meskipun jenisnya sama. Haki ini menimbulkan masalah dalam penentuan harga pokok bahan mentah yang dipakai dalam produksi.
  1. Metode identitikasi khusus
  2. Metode masuk pertama keluar pertama (FIFO (First In Firts Out))
  3. Metode masuk terakhir keluar pertama (LIFO (Last In First Out))
  4. Metode rata-rata bergerak (Moving Average)
  5. Metode biaya standar (standard price)
  6. Metode rata-rata harga pokok bahan baku akhir bulan

G. Pengendalian Bahan Mentah 

Anggaran bahan mentah dalam arti luas dapat berfungsi sebagai alat pengendali (controlling). Untuk itu diperlukan Performance Report laporan pelaksanaan) yang terdiri dari: 
1. Laporan Pelaksanaan Pembelian Bahan Mentah Dengan Analisis Varians sebagai berikut: 
    Varians Karena Jumlah Pembelian 
   (Tumlah Rencana - Jumlah Riil) x Harga Rencana 
    Varians Karena Harga Bahan Mentah 
    (Harga Rencana - Harga Riil) x Jumlah Rill 
    Total Varians 
    = Varians karena jumlah + Varians Karena Harga 
2. Laporan Pelaksanaan Pemakaian Bahan Mentah 
    Dengan Analisis Varians sebagai berikut: 
    Varians Efisien 
    = (Jumiah Rencana - Jumlah Riil) x Harga Rencana 
    Varians Harga
     = (Harga Rencana - Harga Rid) x jumlah Rill 
    Total Varians 
    = Varians Etisiensi + Varians Harga



Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done